Ikan patin (Pangasianodon hypophthalmus) berenang di akuarium besar
Foto: User:Lerdsuwa / <a href="https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Iridescent_Shark_Catfish.jpg" target="_blank" rel="noopener nofollow">Wikimedia Commons</a> (CC BY-SA 3.0)

Ikan Patin: Mengenal Patin Siam, Jambal, dan Pasupati serta Cara Membesarkannya di Kolam

Diposting pada

Patin punya penggemar setia. Di Sumatra dan Kalimantan, patin diolah menjadi gulai, pindang, atau pepes. Di tingkat industri, daging patin yang putih dan tidak berduri halus diolah menjadi fillet beku yang dipasarkan hingga ke luar negeri.

Budidaya patin berkembang pesat di daerah seperti Jambi, Riau, Sumatra Selatan, dan Kalimantan. Artikel ini membahas jenis-jenis patin, cara membesarkannya, serta masalah yang paling sering dihadapi pembudidaya.

Ikan patin (Pangasianodon hypophthalmus) berenang di akuarium besar
Foto: User:Lerdsuwa / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

Jenis-jenis Patin di Indonesia

Jenis Nama ilmiah / asal Karakter
Patin siam Pangasianodon hypophthalmus, asal lembah Sungai Mekong dan Chao Phraya, masuk ke Indonesia dari Thailand pada 1970-an Paling banyak dibudidayakan, pertumbuhan cepat, benih mudah diperoleh
Patin jambal Pangasius djambal, ikan asli Sumatra dan Kalimantan Daging putih dan disukai pasar, tetapi pembenihannya lebih sulit
Patin pasupati Hibrida patin siam betina dan patin jambal jantan, hasil riset balai pemuliaan ikan pemerintah Menggabungkan pertumbuhan cepat patin siam dengan warna daging putih patin jambal

Selain itu ada beberapa patin lokal lain seperti patin nasutus, yang lebih banyak ditangkap dari alam.

Klasifikasi Patin Siam

Ordo Siluriformes
Famili Pangasiidae
Genus Pangasianodon
Spesies Pangasianodon hypophthalmus

Seperti lele, patin termasuk ikan berkumis (catfish) tanpa sisik. Bedanya, patin bertubuh lebih pipih, berenang aktif di kolom air, dan memiliki sungut yang lebih pendek.

Keunikan Biologi Patin

  • Bisa mengambil udara. Patin siam mampu menghirup udara di permukaan air dan memanfaatkan gelembung renangnya sebagai alat bantu pernapasan. Karena itu patin cukup tahan terhadap kadar oksigen rendah.
  • Ikan beruaya. Di alam, patin bermigrasi ke hulu sungai untuk memijah saat musim hujan. Di kolam, patin tidak bisa memijah secara alami, sehingga pembenihan dilakukan dengan kawin suntik menggunakan hormon perangsang.
  • Omnivora. Patin memakan tumbuhan, hewan kecil, dan sisa bahan organik, sehingga mudah beradaptasi dengan pelet.

Kondisi Air yang Ideal

Parameter Kisaran yang disarankan
Suhu 26–30 °C
pH 6,5–8,5
Oksigen terlarut > 3 mg/L
Kedalaman kolam ± 1,2–1,5 m

Langkah Pembesaran Patin di Kolam Tanah

Persiapan kolam

Keringkan kolam beberapa hari, buang lumpur hitam yang berbau, perbaiki pematang, dan tebar kapur untuk menstabilkan pH. Isi air bertahap. Kolam patin sebaiknya cukup dalam karena patin aktif berenang dan tidak nyaman di air yang terlalu dangkal atau panas.

Penebaran benih

Benih patin yang umum dipakai untuk pembesaran berukuran sekitar 2–4 inci. Pilih benih yang seragam, aktif, dan tidak cacat. Lakukan aklimatisasi sebelum penebaran. Padat tebar pada kolam tanah semi-intensif umumnya berkisar belasan hingga puluhan ekor per meter persegi, tergantung ketersediaan air dan aerasi.

Pemberian pakan

Gunakan pelet apung dengan protein sekitar 26–30% untuk pembesaran. Pakan diberikan 2–3 kali sehari. Patin termasuk ikan yang rakus, sehingga kontrol jumlah pakan sangat penting untuk menjaga efisiensi dan kualitas air.

Pemantauan

Lakukan sampling berkala untuk menghitung bobot rata-rata dan menyesuaikan pakan. Amati perilaku ikan setiap pagi. Patin yang banyak menggantung di permukaan menandakan oksigen rendah. Penjelasan tentang racun yang sering tidak terlihat bisa dibaca di artikel amonia di kolam ikan.

Panen

Patin konsumsi umumnya dipanen pada bobot sekitar 500 gram hingga 1 kg per ekor, yang dapat dicapai dalam kurun sekitar 5–6 bulan dari benih, tergantung ukuran awal dan kualitas pakan. Untuk pasar fillet, ukuran panen biasanya lebih besar.

Keramba budidaya ikan patin di bawah rumah apung
Foto: Jean-Pierre Dalbéra from Paris, France / Wikimedia Commons (CC BY 2.0)

Budidaya di Keramba Sungai

Di sejumlah daerah, patin juga dibesarkan di keramba bambu atau jaring di sungai dan waduk. Aliran air yang terus berganti membantu menjaga kualitas air dan sering menghasilkan daging yang lebih bersih. Namun keramba sungai rentan terhadap banjir, penurunan kualitas air saat kemarau, dan pencemaran dari hulu.

Mengatasi Bau Lumpur dan Daging Kuning

Keluhan paling umum dari konsumen dan industri adalah patin yang berbau lumpur atau dagingnya kekuningan. Bau lumpur biasanya disebabkan oleh senyawa seperti geosmin yang dihasilkan mikroorganisme tertentu di kolam dan terserap ke daging ikan. Warna daging kekuningan dipengaruhi jenis patin, pakan, dan lingkungan.

Cara yang umum dipakai untuk mengurangi masalah ini:

  • Pemberokan: memindahkan ikan ke air bersih yang mengalir dan memuasakannya selama beberapa hari sebelum dijual.
  • Menjaga dasar kolam tetap bersih dari lumpur yang menumpuk.
  • Memilih jenis patin berdaging putih, seperti jambal atau pasupati, untuk pasar yang mensyaratkan warna daging tertentu.

Penyakit yang Perlu Diwaspadai

Penyakit Penyebab Tanda-tanda
Bintik putih pada organ dalam (BNP) Bakteri Edwardsiella ictaluri Bintik putih di hati, ginjal, dan limpa, kematian meningkat
Infeksi Aeromonas Bakteri Bercak merah, luka, perut kembung
White spot Parasit Ichthyophthirius Bintik putih di kulit dan insang

Pencegahan tetap menjadi kunci: gunakan benih sehat, jangan menebar terlalu padat, hindari pakan berlebihan, dan jaga kualitas air. Jika terjadi kematian dalam jumlah besar, konsultasikan dengan petugas perikanan setempat sebelum menggunakan obat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa beda patin dan lele?

Keduanya ikan berkumis tanpa sisik, tetapi patin bertubuh lebih pipih dan panjang, berenang aktif, dan dagingnya lebih tebal. Lele lebih banyak diam di dasar dan lebih tahan terhadap air yang sangat keruh.

Bisakah patin dibudidayakan di kolam terpal?

Bisa, asalkan kolam cukup dalam dan kualitas air dijaga. Patin tumbuh besar dan aktif, sehingga padat tebar di kolam terpal perlu lebih rendah dibanding lele.

Berapa lama patin bisa dipanen?

Sekitar 5–6 bulan dari benih ukuran 2–4 inci untuk ukuran konsumsi 500 gram hingga 1 kg.

Referensi

Gambar Gravatar
Tony Yanallbi adalah pendiri dan penulis utama Iwakpedia. Sehari-hari ia membudidayakan ikan nila dengan sistem bioflok di Jawa Tengah, sehingga banyak tulisannya berangkat dari pengalaman langsung di kolam: mengatur kualitas air, pakan, hingga menghitung biaya produksi. Ia juga menekuni pengembangan web dan senang menyederhanakan informasi teknis perikanan agar mudah dipahami pembudidaya pemula maupun pehobi ikan hias.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *