Deretan kolam bulat budidaya ikan sistem bioflok dengan aerasi
Foto: M Joko Apriyo Putro / <a href="https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Biofloc_Tilapia_Harvest.jpg" target="_blank" rel="noopener nofollow">Wikimedia Commons</a> (CC BY-SA 4.0)

Budidaya Nila Sistem Bioflok: Cara Kerja, Persiapan Kolam, dan Kesalahan yang Sering Terjadi

Diposting pada

Bioflok sering dipromosikan sebagai cara budidaya ikan yang “hemat air, hemat pakan, dan bisa di lahan sempit”. Klaim itu ada benarnya, tetapi bioflok juga sistem yang tidak memaafkan kelalaian. Listrik padam beberapa jam saja bisa berakibat fatal bagi seluruh isi kolam.

Nila termasuk ikan yang paling cocok untuk bioflok karena bisa memakan gumpalan flok sebagai pakan tambahan. Artikel ini menjelaskan cara kerja bioflok dan langkah-langkah praktis memulainya, termasuk hal-hal yang jarang dibahas dalam materi promosi.

Deretan kolam bulat budidaya ikan sistem bioflok dengan aerasi
Foto: M Joko Apriyo Putro / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Apa Itu Bioflok?

Dalam kolam ikan, sisa pakan dan kotoran menghasilkan amonia yang beracun. Pada kolam biasa, masalah ini diatasi dengan mengganti air secara rutin. Sistem bioflok mengambil pendekatan lain: amonia “dimakan” oleh bakteri di dalam kolam itu sendiri.

Caranya adalah dengan menambahkan sumber karbon, misalnya molase atau gula, sehingga perbandingan karbon dan nitrogen (rasio C:N) di air menjadi tinggi, umumnya di kisaran 15–20:1. Pada kondisi ini, bakteri heterotrof berkembang pesat dan menyerap nitrogen dari amonia untuk membangun sel tubuhnya. Bakteri kemudian menggumpal bersama alga, protozoa, dan partikel organik membentuk flok, yaitu gumpalan kecil berwarna cokelat yang melayang di air.

Teknologi ini dikembangkan dan dipopulerkan oleh peneliti Israel, Yoram Avnimelech, dan kini dipakai untuk budidaya nila, lele, maupun udang.

Kenapa Nila Cocok untuk Bioflok?

  • Nila bisa memakan flok. Flok mengandung protein, sehingga menjadi pakan tambahan yang membantu menekan kebutuhan pelet.
  • Tahan terhadap air keruh. Air bioflok memang pekat oleh partikel. Nila relatif toleran terhadap kondisi ini dibanding banyak ikan lain.
  • Pasar jelas. Nila adalah ikan konsumsi yang permintaannya stabil. Baca juga panduan lengkap mengenal dan membesarkan ikan nila.

Kelebihan dan Kekurangan Bioflok

Kelebihan Kekurangan
Padat tebar jauh lebih tinggi dibanding kolam tanah Aerasi harus menyala 24 jam, biaya listrik rutin
Pergantian air sangat sedikit Listrik padam bisa menyebabkan kematian massal dalam hitungan jam
Bisa dilakukan di pekarangan sempit Butuh pemantauan kualitas air yang disiplin
Flok menjadi pakan tambahan Modal awal lebih besar (kolam, blower, genset)

Peralatan yang Dibutuhkan

  1. Kolam bulat dari terpal dengan rangka besi wiremesh, umumnya berdiameter 2–4 meter dengan ketinggian air sekitar 80–100 cm. Bentuk bulat membantu air berputar sehingga flok tidak mengendap di sudut.
  2. Saluran buang di tengah dasar kolam untuk membuang lumpur flok yang berlebih. Dasar kolam dibuat sedikit miring ke arah tengah.
  3. Blower atau aerator dengan batu aerasi (aerostone) yang tersebar merata. Aerasi berfungsi ganda: menyuplai oksigen dan menjaga flok tetap melayang.
  4. Sumber listrik cadangan, misalnya genset kecil atau aerator baterai. Ini bukan perlengkapan tambahan, melainkan wajib.
  5. Atap atau paranet untuk melindungi kolam dari hujan deras dan terik matahari yang bisa mengubah suhu dan pH secara drastis.
  6. Alat ukur sederhana: pH meter atau kertas pH, termometer, dan kerucut Imhoff untuk mengukur volume flok.

Langkah Menyiapkan Air Bioflok

Setiap pembudidaya punya “resep” yang sedikit berbeda. Prinsip umumnya seperti berikut:

  1. Isi kolam dengan air bersih hingga ketinggian yang diinginkan, lalu nyalakan aerasi.
  2. Tambahkan garam krosok (garam non-yodium) untuk membantu ikan menghadapi stres dan menekan racun nitrit. Dosis yang umum dipakai berkisar 1–3 kg per meter kubik.
  3. Tambahkan kapur dolomit untuk menjaga alkalinitas dan menstabilkan pH.
  4. Masukkan probiotik yang mengandung bakteri seperti Bacillus, sesuai dosis pada kemasan.
  5. Tambahkan molase sebagai sumber karbon awal.
  6. Diamkan 7–10 hari dengan aerasi menyala sampai air berubah warna menjadi kecokelatan dan mulai terlihat partikel flok halus.

Jangan terburu-buru menebar benih sebelum flok terbentuk. Air yang belum “jadi” belum mampu mengolah amonia dari kotoran ikan.

Menebar Benih dan Padat Tebar

Gunakan benih nila yang seragam dan sehat, idealnya monosex jantan. Lakukan aklimatisasi 15–30 menit sebelum benih dilepas. Padat tebar yang umum dipakai pembudidaya nila bioflok berada di kisaran 50–100 ekor per meter kubik. Untuk pemula, mulailah di batas bawah. Padat tebar tinggi memang menjanjikan hasil panen lebih besar, tetapi kesalahan kecil akan berdampak jauh lebih besar pula.

Menjaga Rasio Karbon: Berapa Banyak Molase?

Molase atau sumber karbon lain perlu ditambahkan secara rutin karena setiap hari ikan diberi pakan yang membawa nitrogen baru ke dalam kolam. Berdasarkan perhitungan Avnimelech, untuk pakan dengan protein sekitar 30%, dibutuhkan kurang lebih 0,5 kg karbohidrat untuk setiap 1 kg pakan agar amonia yang dihasilkan bisa diserap bakteri.

Karena kadar gula molase berbeda-beda, banyak pembudidaya memberikan molase secara bertahap sambil memantau kondisi air, bukan sekaligus dalam jumlah besar. Molase sebaiknya diencerkan dulu dengan air kolam lalu disebar merata.

Memantau Flok dengan Kerucut Imhoff

Kerucut Imhoff untuk mengukur volume flok pada air kolam bioflok
Foto: Ednarrc / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Kerucut Imhoff adalah tabung berbentuk kerucut bervolume 1 liter dengan skala di bagian bawah. Cara pakainya:

  1. Ambil 1 liter air kolam dari kedalaman tengah.
  2. Tuang ke kerucut Imhoff dan diamkan 15–20 menit.
  3. Baca volume endapan flok di dasar kerucut dalam satuan ml/L.

Pada budidaya nila, volume flok yang umum dijaga berkisar sekitar 5–50 ml/L, tergantung ukuran ikan dan kekuatan aerasi. Jika flok terlalu pekat, oksigen cepat habis dan insang ikan bisa tersumbat. Solusinya, buang sebagian lumpur dari saluran tengah lalu tambahkan air baru. Jika flok terlalu sedikit, tambahkan sumber karbon.

Parameter Air yang Perlu Dipantau

Parameter Kisaran yang disarankan Frekuensi cek
Oksigen terlarut > 4 mg/L Harian, terutama pagi hari
pH 6,8–8 Harian
Suhu 25–30 °C Harian
Volume flok ± 5–50 ml/L 2–3 kali seminggu
Alkalinitas > 100 mg/L CaCO3 Mingguan bila ada alat ukur

Pada sistem bioflok, pH cenderung turun perlahan karena aktivitas bakteri. Penambahan kapur dolomit secara berkala membantu menjaga alkalinitas dan mencegah pH anjlok.

Kesalahan yang Sering Terjadi

  • Tidak punya listrik cadangan. Ini penyebab kegagalan paling fatal. Dengan padat tebar tinggi, oksigen bisa habis dalam waktu singkat saat aerasi mati.
  • Memberi pakan berlebihan. Pakan yang tidak termakan menambah beban amonia dan membuat flok terlalu pekat.
  • Tidak pernah membuang lumpur. Flok yang menua dan mengendap bisa membusuk dan menghasilkan gas beracun.
  • Menebar benih terlalu cepat. Air belum matang, amonia tidak terkendali, benih stres dan mati.
  • Mengabaikan atap. Hujan deras bisa menurunkan suhu dan pH secara tiba-tiba sehingga ikan stres.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah bioflok benar-benar lebih hemat pakan?

Flok memang bisa menjadi pakan tambahan dan membantu efisiensi, tetapi hasilnya sangat bergantung pada pengelolaan. Pakan tetap menjadi komponen biaya terbesar, jadi hitung rasio konversi pakan (FCR) Anda secara rutin.

Berapa biaya listrik bioflok?

Tergantung jumlah kolam dan daya blower. Hitung daya blower (watt) × 24 jam × 30 hari untuk mendapatkan kWh per bulan, lalu kalikan dengan tarif listrik di tempat Anda.

Apakah lele juga bisa dengan bioflok?

Bisa, dan cukup banyak pembudidaya lele yang memakai sistem ini. Namun lele tidak memakan flok seefektif nila. Baca juga perbedaan jenis lele dan cara memeliharanya.

Referensi

  • Avnimelech, Y. (2015). Biofloc Technology: A Practical Guide Book (edisi ke-3). World Aquaculture Society.
  • Crab, R., Defoirdt, T., Bossier, P., & Verstraete, W. (2012). Biofloc technology in aquaculture: Beneficial effects and future challenges. Aquaculture, 356–357, 351–356.
Gambar Gravatar
Tony Yanallbi adalah pendiri dan penulis utama Iwakpedia. Sehari-hari ia membudidayakan ikan nila dengan sistem bioflok di Jawa Tengah, sehingga banyak tulisannya berangkat dari pengalaman langsung di kolam: mengatur kualitas air, pakan, hingga menghitung biaya produksi. Ia juga menekuni pengembangan web dan senang menyederhanakan informasi teknis perikanan agar mudah dipahami pembudidaya pemula maupun pehobi ikan hias.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *