fakta menarik ikan nila
fakta menarik ikan nila

12 Fakta Ikan Nila yang Jarang Diketahui, dari Cara Bertelur hingga Kandungan Gizinya

Diposting pada

Ikan nila sering dianggap ikan “biasa” karena mudah ditemukan di pasar dan warung makan. Padahal, di balik statusnya sebagai lauk sehari-hari, nila punya biologi yang unik dan sejarah panjang. Berikut beberapa fakta yang mungkin belum Anda ketahui.

Jika Anda mencari panduan teknis budidaya, silakan baca juga panduan lengkap ikan nila dari benih hingga panen.

Ikan nila tampak samping memperlihatkan sirip punggung panjang dan pola garis
Foto: Raver Duane, U.S. Fish and Wildlife Service / Wikimedia Commons (Public domain)

1. Nila Termasuk Ikan Budidaya Terpenting di Dunia

Nila tidak hanya populer di Indonesia. Menurut data FAO, ikan ini termasuk spesies ikan budidaya dengan produksi terbesar di dunia, mencapai jutaan ton per tahun. Negara produsen utamanya antara lain Tiongkok, Indonesia, Mesir, Bangladesh, dan Brasil. Indonesia sendiri konsisten berada di jajaran produsen nila terbesar.

2. Induk Betina Mengerami Telur di Dalam Mulut

Setelah pemijahan, induk betina menyimpan telur yang sudah dibuahi di rongga mulutnya sampai menetas. Selama masa ini, induk hampir tidak makan. Bahkan setelah menetas, anak-anak nila masih akan berlari kembali ke mulut induknya ketika merasa terancam. Strategi yang disebut mouthbrooding ini membuat tingkat hidup anakan nila jauh lebih tinggi dibanding ikan yang melepas telurnya begitu saja.

3. Jantan Tumbuh Lebih Cepat daripada Betina

Nila jantan bisa tumbuh jauh lebih cepat karena tidak menghabiskan energi untuk mengerami telur. Inilah alasan pembudidaya komersial lebih menyukai benih monosex jantan. Selain pertumbuhannya lebih cepat, ukuran panennya juga lebih seragam dan kolam tidak dipenuhi anakan yang tidak diinginkan.

4. Jantan Membangun “Sarang” di Dasar Kolam

Menjelang musim kawin, nila jantan menggali cekungan berbentuk mangkuk di dasar kolam dengan mulut dan siripnya. Cekungan ini menjadi arena untuk menarik betina. Jantan juga menjadi lebih teritorial dan warnanya lebih mencolok. Jika Anda melihat banyak lubang dangkal di dasar kolam tanah, itu tanda nila di kolam Anda sudah mulai matang gonad.

5. Nila Merah Bukan Spesies Tersendiri

Banyak orang mengira nila merah adalah jenis ikan yang berbeda. Sebenarnya, nila merah merupakan hasil persilangan dan seleksi dari beberapa spesies Oreochromis atau mutasi warna yang kemudian dikembangkan. Di Indonesia dikenal beberapa strain nila merah, misalnya Nila Larasati. Warnanya yang menarik membuat nila merah sering dihargai lebih tinggi di restoran.

Ikan nila merah segar yang dijual di pasar ikan
Foto: Rup11 / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

6. Pemakan Segala, Termasuk Plankton

Nila tergolong omnivora dengan kecenderungan herbivora. Di alam, ikan ini memakan fitoplankton, alga, detritus, dan hewan kecil. Nila mampu menyaring plankton dari air dengan bantuan lendir di insangnya. Kemampuan inilah yang membuat nila cocok dibudidayakan di kolam yang dipupuk, karena plankton menjadi pakan alami tambahan, serta pada sistem bioflok, di mana gumpalan mikroba bisa ikut dimakan.

7. Tahan Kondisi Air yang Buruk, tetapi Ada Batasnya

Nila dikenal kuat menghadapi oksigen rendah dan kualitas air yang kurang ideal. Namun “tahan” tidak sama dengan “tumbuh baik”. Pada oksigen terlarut rendah, ikan memang bisa bertahan hidup, tetapi nafsu makan dan pertumbuhannya turun. Kesalahan umum pemula adalah terlalu mengandalkan daya tahan nila lalu mengabaikan aerasi dan pergantian air.

8. Tidak Tahan Dingin

Sebagai ikan tropis asal Afrika, nila sensitif terhadap suhu rendah. Pertumbuhan optimal ada di kisaran 25–30 °C. Di bawah sekitar 20 °C nafsu makannya menurun, dan suhu yang jauh lebih rendah dapat mematikan. Hal ini menjelaskan mengapa pertumbuhan nila di daerah pegunungan biasanya lebih lambat dibanding di dataran rendah.

9. Bisa Hidup di Air Payau

Nila bersifat cukup toleran terhadap perubahan salinitas. Dengan adaptasi bertahap, nila dapat dibesarkan di tambak air payau. Indonesia bahkan memiliki strain khusus, Nila Srikandi, yang dikembangkan untuk lingkungan bersalinitas lebih tinggi. Ini membuka peluang pemanfaatan tambak udang yang tidak lagi produktif.

10. Sudah Ada di Indonesia Lebih dari Setengah Abad

Nila pertama kali didatangkan ke Indonesia pada tahun 1969 dari Taiwan. Sejak itu, berbagai strain unggul lain menyusul, termasuk GIFT dari Filipina. Lembaga riset dalam negeri kemudian menghasilkan strain lokal seperti Nirwana, Larasati, dan Srikandi.

11. Dagingnya Tinggi Protein dan Rendah Lemak

Dalam 100 gram daging nila mentah terdapat sekitar 20 gram protein dengan kandungan lemak kurang dari 2 gram, serta energi sekitar 95 kilokalori. Nila juga mengandung selenium, fosfor, dan vitamin B12. Dengan profil seperti ini, nila menjadi sumber protein hewani yang terjangkau untuk keluarga.

Kandungan (per 100 g daging mentah) Perkiraan jumlah
Energi ± 96 kkal
Protein ± 20 g
Lemak total ± 1,7 g
Karbohidrat 0 g

Sumber data gizi: USDA FoodData Central, “Fish, tilapia, raw”. Nilai dapat berbeda tergantung pakan dan ukuran ikan.

12. Di Beberapa Negara, Nila Dianggap Spesies Invasif

Kemampuan nila berkembang biak dengan cepat dan bertahan di berbagai kondisi menjadi masalah ketika ikan ini lepas ke perairan alami. Di sejumlah negara, nila dianggap mengancam ikan asli karena bersaing memperebutkan makanan dan ruang. Pelajaran pentingnya bagi pembudidaya: jangan melepas nila ke sungai atau danau, dan pastikan saluran pembuangan kolam memiliki saringan.

Kesimpulan

Nila adalah contoh ikan yang sukses beradaptasi: bisa hidup di air tawar maupun payau, memakan banyak jenis pakan, dan menjaga anaknya dengan cara yang efektif. Sifat-sifat inilah yang menjadikannya komoditas budidaya andalan, sekaligus alasan mengapa pengelolaannya perlu bertanggung jawab.

Artikel Terkait

Referensi

Gambar Gravatar
Tony Yanallbi adalah pendiri dan penulis utama Iwakpedia. Sehari-hari ia membudidayakan ikan nila dengan sistem bioflok di Jawa Tengah, sehingga banyak tulisannya berangkat dari pengalaman langsung di kolam: mengatur kualitas air, pakan, hingga menghitung biaya produksi. Ia juga menekuni pengembangan web dan senang menyederhanakan informasi teknis perikanan agar mudah dipahami pembudidaya pemula maupun pehobi ikan hias.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *